Selasa, 17 Februari 2015

Sebuah Pertanyaan

Saat aku mengungkapkan apa yang kurasa, mereka bilang biasa.

Manusia dapat menjadi manusia ketika mereka merasakan sakit. Hal itu membuktikan bahwa mereka masih memiliki emosi, yang membedakan mereka dengan makhluk tuhan lainnya. Karena itu, kita harus bangga dengan apa yang kita rasakan. Untuk tidak menutupinya. Membiarkan apa yang dirasa untuk diketahui oleh semua. Begitu katanya.

Bisakah aku? Membuka rasa kepada semua tanpa kenal setiap jiwa yang ada?

Bisakah aku? Berani membuka rasa kemudian mendapatkan jawaban 'biasa'?

Tidak.

Apa yang kurasa, hanya milikku semata. Akan kunikmati setiap tetes rasa yang ada. Orang-orang itu tidak akan kubiarkan mencicipi rasa ini. Biar aku saja.

Membuka itu butuh keberanian dan tenaga. Berani jatuh ketika kamu memperlihatkan kelemahan di depan dia yang kau percaya. Tenaga untuk bersusah payah tertawa ketika jawabannya hanyalah 'biasa'.

Klise?

Mungkin.

Selain tak mau, aku pun tak sanggup. Mana bisa membiarkan mereka yang terbiasa menghias hariku dengan senyuman untuk bisa merasakan ini? Walaupun jawaban yang kudapat hanyalah 'biasa'.

Perlahan, apa yang kusimpan sendiri membuatku hanyut dalam rasa ini. Aku tenggelam di dalamnya, dan ia dengan senang hati merangkulku.

Sakit sudah menjadi sahabatku sekian lama, sehingga ia tak lagi mampu untuk menyakitiku. Aku dan dia menjadi satu.

Kita tak terpisahkan.








Lantas, apakah aku masih manusia?